KISAHKU SANG BUDAK SEKS TANTE JEANI - PART 2
Setibanya di hotel, aku langsung masuk ke kamar. Berbeda dengan biasanya tante Jeani
yang akan berpose seksi sambil menunggu kedatanganku, hari ini ia tampak sangat
cantik namun tajam. Dengan memakai celana legging glossy yang ketat dan kemeja
putih dengan 2 kancing atas yang terbuka sambil memegang gelas minuman. Ia
melirikku sekilas lalu memintaku duduk di kursi sebelahnya yang masih kosong.
Setelah meneguk habis minumannya akhirnya ia membuka pembicaraan.
“Jika kau
masih mau bekerja menjadi budak seks ku, kau harus sadar diri. Aku membayarmu
bukan untuk membuatmu mencintaiku. Semua yang sudah terjadi hanyalah sebatas pekerjaan
untukmu. Jadi jangan pernah berharap lebih. Jika kau setuju maka aku akan tetap
memakaimu menjadi budak seksku, namun jika tidak, silahkan tinggalkan kamar
ini,” kata tante Jeani dengan tegas dan dengan tatapan yang tak kalah tajam.
Aku mulai
berpikir, pikiranku mulai kacau dan bingung. Separuh diriku tidak lagi ingin
melayaninya sebagai budak seks namun aku masih bingung dan terlalu takut jika
aku tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Setelah aku berpikir selama
lebih kurang 5 menit akhirnya aku mengangguk dan mengiyakan perkataan tante
Jeani sambil meminta maaf atas kejadian sebelumnya. Perasaanku sedikit lega
karena aku tak perlu pusing lagi memikirkan bagaimana aku hidup karena aku
sempat khawatir jika tante Jeani akan menelantarkanku. Namun ternyata ini semua
tidak berjalan seperti sebelumnya.
“Untuk
menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, aku ingin membuat peraturan
baru dalam pekerjaan ini. Mulai sekarang hingga seterusnya aku takkan lagi
berhubungan denganmu seperti biasa. Ada aturan-aturan baru yang harus kamu
turuti jika masih ingin bekerja untukku,” lanjut tante Jeani dengan tatapan
yang sedikit liar.
Aku
sempat berpikir tentang apa aturan-aturan baru yang harus aku turuti. Namun
tanpa berpikir terlalu lama aku langsung menyetujuinya. Karena dalam pikiranku
bekerja sebagai budak seks sama sekali tidak sulit. Aku tinggal menyetubuhinya
dan tujuan menjadi budak seksnya hanyalah membuatnya mengalami orgasme. Tante
Jeani juga memintaku untuk menandatangani kontrak, hitam di atas putih, dengan beberapa
poin yang sudah dibuatnya, salah satunya adalah aku tidak boleh membantah
apapun yang ia katakan dan aku tidak boleh membatalkan kontrak kerja ini
secara tiba-tiba.
Tante Jeani
memintaku untuk duduk di ranjang. Ia memberikanku sebuah penutup mata dan
memintaku untuk memakainya. Tanpa menunggu lama aku pun langsung melakukan
arahan dari tante Jeani. Tak berapa lama tante Jeani memintaku untuk berdiri
lalu menurunkan celanaku. Segera kulakukan apa yang diperintahkan olehnya. Aku
merasakan ada yang memegang batang kemaluanku. Tangan itu terus memainkan
batang kemaluanku tapi aku merasa itu bukan tangan tante Jeani karena tangannya
tidak sehalus biasanya.
Dengan mata
tertutup tante Jeani memintaku untuk meminum obat yang ia berikan. Aku bingung
dan sempat bertanya tentang obat apa yang akan aku minum namun tante Jeani
tidak menjawab dan menyuruhku untuk tidak banyak tanya. Aku meminum obat yang
ia berikan, aku tak tahu obat apa yang ia berikan namun aku tidak merasakan ada
efek apapun di tubuhku.
Tante Jeani
membuka bajuku lalu menyuruhku untuk duduk di ranjang. Ia mengikat kedua kakiku
dengan tali. Lalu ia memintaku untuk tidur telentang di ranjang. Aku hanya bisa
menuruti perintahnya tanpa bisa bertanya apapun. Ada sedikit perasaan menyesal
kenapa aku langsung menandatangani kontrak dengannya tadi. Rasanya sudah terlambat.
Mungkin mimpi burukku akan dimulai sekarang.
Sebuah
ciuman mendarat di bibirku, berbeda dengan yang biasanya dan membatin bahwa ini
bukanlah tante Jeani. Benar saja, tak lama setelah berciuman, ada tangan yang
mulai meraih tanganku dengan kasar. Dan pada saat yang bersamaan ada yang
memegangi batang kemaluanku. Aku sangat penasaran dengan siapa aku bercumbu dan
kenapa. Tapi seolah bisa mengetahui perasaan bingungku tante Jeani kemudian berkata.
“Nikmati
saja dan jangan banyak protes. Ini permainan baru yang harus kamu jalani. Ingat
kontrak kerja yang sudah kamu tandatangani,” kata tante Jeani diiringi tawa 2
orang perempuan lagi jika aku tidak salah menerka.
Aku tak
tau dengan siapa aku bercinta, yang bisa kurasakan hanyalah sedang ada 3 orang
wanita di kamar ini yang sedang mengerjaiku. Salah seorang terus menciumi
bibirku sambil terkadang mencubit putingku dengan keras. Wanita lainnya memintaku
untuk memainkan vaginanya dengan jariku. Dan satu lagi sedang mengulum kontolku.
Aku merasa keenakan namun masih ada sedikit perasaan takut. Aku tidak pernah
tau dengan siapa aku bercumbu.
Rasanya
aku bekerja lebih keras sekarang. Wanita yang tadinya menciumiku akhirnya
menyodorkan vaginanya ke mulutku dan memintaku untuk menjilatnya, sangat
agresif sampai terkadang aku susah untuk mengambil nafas. Yang lainnya kemudian
memasukkan kontolku ke kemaluannya sambil mendesah panjang. Yang bisa kurasakan
adalah vaginanya sudah sangat basah. Wanita lainnya masih asik menikmati
permainan tanganku dengan terus mendesah. Yang bisa kudengar sepanjang waktu
hanyalah desahan mereka.
Sekitar
30 menit sudah akhirnya mereka semua berhenti. Kupikir aku diberi waktu istirahat
namun ternyata aku salah. Salah satu dari mereka mulai menggerayangi tubuhku,
aku tak tahu siapa namun pastinya ini bukan tante Jeani. Ia menciumi bibirku dan
2 orang lainnya sedang mengikat tanganku di sisi kanan dan kiri sudut tempat
tidur.


No comments: