Ads Top

KISAHKU SANG BUDAK SEKS TANTE JEANI - PART 1


Setiap pagi ketika bangun aku selalu merenung, merasa cukup beruntung dengan kehidupanku yang sekarang. Jika dibandingkan dengan setahun lalu yang masih penuh kekurangan aku merasa sangat berkecupukan sekarang. Jika hanya untuk makan saja aku susah, sekarang ini aku bisa kuliah dan bahkan hidup santai tanpa harus bekerja. Aku tak perlu pusing lagi untuk makanku sehari-hari, bahkan aku bisa jalan-jalan kapanpun aku mau.

Namun tak jarang aku selalu berpikir sampai kapan aku harus hidup seperti ini. Satu sisi dari diriku mencintai hidup yang kujalani saat ini, tidak perlu pusing memikirkan bagaimana aku harus hidup, namun di sisi lain aku juga merasa lelah dan ingin segera melepaskan diri menjadi budak nafsu dari seorang wanita dewasa yang sudah memeliharaku selama 1 tahun belakangan ini. Aku juga ingin memiliki hidup seperti orang lain yang juga bisa mencintai 1 perempuan dan membina keluarga sendiri.

Setiap tante Jeani membutuhkanku aku harus selalu dan segera berada disampingnya. Tak peduli apakah aku sedang sakit, sedang ingin sendiri atau bahkan ketika aku sedang tidak bergairah. Aku juga tidak diizinkan untuk menjalin hubungan dengan wanita lain selain dia. Aku pernah kedapatan jalan berdua dengan seorang wanita dan tante Jeani marah besar. Semenjak kejadian itu ia mengancamku jika aku menjalin hubungan dengan wanita lain lagi maka ia tidak akan segan-segan mengambil kembali semua yang sudah ia berikan.

Di 6 bulan pertama aku merasa senang dengan hubungan ini. Tante Jeani di umurnya yang sudah 47 tahun memang masih sangat cantik dengan tubuh yang masih sangat molek. Tante Jeani sendiri sudah menikah dan sudah memiliki 3 orang anak. Ia juga masih tinggal bersama suaminya namun suaminya sering bekerja keluar kota. Itulah alasan mengapa ia memutuskan untuk memelihara pria untuk memenuhi kebutuhan seksnya yang tinggi. Awal menjalin hubungan ini aku merasa sangat nyaman bahkan aku sempat mencintai tante Jeani.

Suatu waktu, ketika aku masih mengikuti kelas di kampus, tante Jeani menelponku. Ia memintaku untuk segera ke hotel tempat biasa kami berhubungan seks. Setelah kelas selesai, aku segera menuju hotel tempat biasa kami berhubungan. Tante Jeani membelikanku sebuah mobil agar aku tak lagi punya alasan untuk berlama-lama menghampirinya. Perjalanan dari kampus ke hotel hanya sekitar 10 menit jika tidak macet. Begitu sampai di hotel aku segera memarkirkan mobil dan menuju kamar yang telah ia pesan.



Begitu aku membuka pintu, ku lihat tante Jeani sudah memakai lingerie yang sangat seksi. Dengan posisi yang sudah telentang, ia memanggilku dengan nada manjanya memintaku untuk segera ke ranjang. Tak menunggu lebih lama aku langsung meletakkan tas dan melepaskan celanaku lalu aku beranjak ke ranjang. Tanpa sempat berkata apapun tante Jeani sudah langsung mecium bibirku dengan sangat bergairah. Karena aku juga memang memiliki perasaan cinta kepada tante Jeani aku juga memberikan kehangatan yang ia juga berikan kepadaku. Aku mencumbunya layaknya kekasihku sendiri.

Dengan perlahan tante Jeani melepaskan bajuku. Ia mulai menggerayangi tubuhku sambil menciuminya terus ke bawah. Aku hanya bisa menikmati aksinya yang sangat lihai kala itu. Tak berapa lama aku sudah telanjang bulat. Dan tanpa menunggu lebih lama lagi aku langsung mengarahkan kontolku ke vagina tante Jeani yang masih kering. Hanya dengan sekali tusukan aku langsung menembus vagina tante Jeani tanpa ampun.

Karena tanpa melakukan foreplay terlebih dulu, tante Jeani sempat merintih karena vaginanya yang masih kering langsung ku tusuk sampai ke paling ujung. Ia terus merintih kesakitan, namun itulah yang kami berdua sukai. Sensasi pertama yang membuat kami berdua semakin bergairah. Setelah 4 kali tusukan tajam yang kulakukan akhirnya kukeluarkan lagi kontolku.

Aku melanjutkan dengan melakukan oral sex pada tante Jeani. Ku mulai dengan menjilati vagina tante Jeani yang sudah sempat basah karena tusukan kontolku tadi. Ku jilati terus klitorisnya sambil meremas payudara tante Jeani. Vaginanya semakin basah, pantat tante Jeani ikut bergoyang mengikuti nikmatnya jilatanku. Lidahku masuk semakin dalam ke vaginanya membuatnya terus mendesah tanpa henti.

Tanganku yang tadinya meremas payudara tante Jeani akhirnya mulai turun dan dengan perlahan aku memasukkan jariku ke lubang pantat tante Jeani. Membuatnya semakin menggeliat dan semakin liar. Tak lama sejak kumainkan jariku di lubang pantatnya sambil menjilati dan memainkan klitorisnya akhirnya tante Jeani mengerang keras. Aaaaaaaarrrkkhhhhh ,,, Orgasme pertama tante Jeani selesai.

Namun tugasku belum selesai. Dalam sekali pertemuan kami, tugasku adalah membuat tante Jeani harus merasakan orgasme sebanyak minimal 3 kali. Setelah orgasme pertama dilakukan dengan cara oral sex biasanya akan kami lanjutkan dengan hubungan seks biasa. Karena vagina tante Jeani yang sudah basah, aku lap terlebih dulu vaginanya dengan tissue. Setelah itu kami berciuman sebentar lalu dengan perlahan aku memasukkan kontolku ke dalam vagina tante Jeani.

Posisi awal kami tetap missionaris, jadi tante Jeani berada di bawah dan aku di atas. Aku mulai menggerakkan kontolku masuk dan keluar vaginanya yang mulai basah lagi. Tante Jeani terus mendesah keenakan. Tanganku yang satu meremas payudara kiri tante Jeani dengan lembut dan sambil menjilati putingnya payudara kanannya. Aku semakin mempercepat gerakanku sampai pada akhirnya aku merasa vaginanya seperti sedang menyedot kontolku, teriakan tante Jeani juga semakin terdengar, ia mendesah sangat panjang sampai orgasme keduanya selesai.

Setelah 2 ronde selesai, biasanya aku akan selalu keluar di ronde terakhir. Tante Jeani tidak memperbolehkanku untuk orgasme jika masih ronde pertama atau kedua. Ia selalu membuatku menahan orgasmeku yang kadang sangat sulit untuk ku kontrol. Sebelum melanjutkan ronde ketiga, tante Jeani berbisik kepadaku sambil berkata bahwa ia sangat menyukai permainanku. Dengan senyum termanis aku balik berbisik dengan lembut ke telinga tante Jeani, aku mencintaimu sayang.

Dengan tanpa ku duga tante Jeani langsung mengambil posisi duduk. Ia menatapku dengan tajam lalu bilang bahwa hubunganku dengan dia tidak lebih dari pengguna jasa dan seorang budak seks. Ia langsung menuju ke kamar mandi lalu membersihkan dirinya dan meninggalkanku begitu saja. Sebelum keluar dari kamar ia melemparkan pecahan 50.000,- sebanyak 40 lembar ke arahku.

Aku tak bisa melakukan apa-apa, akhirnya aku hanya bisa terduduk. Sedikit menyesali perkataanku sebelumnya. Aku juga merasa sakit hati dan sedikit terhina. Setelah kejadian sore itu tante Jeani sempat tidak menghubungiku selama 1 bulan. Di bulan ke 8, awal bulan ke 8 tante Jeani kembali menghubungiku dan memintaku untuk menemuinya di sebuah hotel. Namun hotel ini berbeda dengan yang biasa kami kunjungi.

Setelah kejadian yang terakhir itu, perasaan sayangku kepada tante Jeani sudah menghilang. Namun meskipun begitu, selama 1 bulan tidak menghubungiku tante Jeani tetap mengirimkan uang untukku. Aku sedikit malas dan tidak ingin menemuinya namun jika mengingat kembali bahwa tante Jeanilah yang memberiku uang akhirnya dengan rasa malas aku menemuinya.

No comments:

Powered by Blogger.