KISAHKU SANG BUDAK SEKS TANTE JEANI - PART 3
Tangan
dan kakiku terikat, mataku juga tertutup, perasaanku sangat tidak enak. Salah
satu dari mereka yang sedang menggerayangiku terus mencumbuku tanpa henti.
Setelah puas menjilati tubuhku dari atas sampai bawah ia memintaku untuk
menjilati vaginanya yang sudah sangat basah. Ia terus memainkan kontolku sembari
aku menjilati vaginanya. Sambil mendesah keenakan tak jarang ia menekankan
vaginanya ke wajahku dengan sangat kuat. Sampai tak berapa lama aku mendengarnya
mengerang dengan keras dan aku merasakan sesuatu yang hangat keluar dan membasahi
wajahku. Entah cairan orgasme atau kencingnya pun aku tak lagi tahu.
Tak
berhenti disana setelah ia mengerang panjang keenakan ia kemudian membalikkan badan
dan memasukkan kontolku ke vaginanya sambil menaikturunkan pinggulnya. Kontolku
terasa sangat hangat di dalam vaginanya namun vaginanya tidak terasa sempit dan
sangat basah sekali. Ia menggoyakan pinggulnya semakin cepat naik dan turun.
Aku merasakan ingin orgasme namun entah kenapa rasanya tidak bisa. Seperti itu
terus sampai wanita itu orgasme lagi dan kemudian ia berhenti.
Wanita
kedua akhirnya menghampiriku, aku merasakan tangannya menggenggam kontolku
dengan sangat keras. Aku merasa sedikit sakit karena genggamannya yang sangat
keras. Aku merasa sangat lelah dan kontolku terasa sangat nyeri. Ia mulai mengocok
kontolku dari perlahan hingga sangat kencang, begitu terus berulang ulang. Tak
lama setelah itu ia mengangkat kedua kakiku, aku merasa ada sesuatu yang dimasukkannya
ke lubang pantatku, sakit sekali. Aku setengah teriak sambil merintih.
Arrkkhhhh, aku merasa sangat perih sekali. Aku memohon kepada mereka untuk
tidak memasukkan benda apapun kedalam lubang pantatku namun mereka malah
tertawa.
Dengan
tanpa mengulur waktu lagi akhirnya ia memasukkan kontolku ke dalam vaginanya.
Nikmat rasanya, rasa sakit yang kurasakan tadi sedikit tertutupi dengan nikmat
vaginanya. Ia mulai mengatur ritme goyangan dengan teratur. Aku selalu merasa
ingin orgasme namun tidak pernah bisa, membuatku sangat lelah dan kontolku nyeri
sekali. Kontolku terasa sangat panas sekali, aku sempat meminta untuk istirahat
namun mereka tak menghiraukanku.
Ia terus
menunggangi tubuhku dan terkadang memukul dan mencubitnya. Sakit sekali,
seluruh badanku sudah lelah, sangat lelah, panas dan perih. Lidahku bahkan
sudah kebas menjilati satu per satu vagina mereka. Ia terus menggoyangkan
pinggulnya memasukkan kontolku ke dalam vaginanya. Sampai akhirnya ia mengerang
dengan keras aku merasa vaginanya sangat hangat seperti menyedot kontolku lebih
dalam. Aku sangat menikmati orgasmenya namun sedikit bingung kenapa aku tak bisa
orgasme. Perasaanku sangat campur aduk, kesal juga khawatir apa yang terjadi
dengan kontolku.
Tak
berhenti setelah orgasme, wanita kedua ini langsung menempatkan vaginanya ke
wajahku, ia menggesek-gesekkan vaginanya ke wajahku dari hidung sampai ke
mulut, begitu terus sampai akhirnya ia mengencingi wajahku. Sial batinku, entah
sampai kapan mimpi burukku akan berakhir. Tante Jeani tidak melanjutkan mencumbuku
hari itu. Mereka lalu pulang dan membiarkanku dengan kaki yang masih terikat
dan mata yang masih tertutup. Sejak saat itu aku selalu diperlakukan seperti
budak seks yang sebenarnya oleh tante Jeani dan teman-temannya. Permainan
mereka semakin hari semakin liar dan aku tidak pernah sekalipun diperbolehkan
membuka mata ketika sedang dijadikan budak seks.
Dan
ternyata obat yang tante Jeani berikan kepadaku membuatku tidak bisa mengalami
orgasme selama 12 jam setelah obat tersebut diminum. Dan kontolku akan terus tegang
sampai reaksinya habis. Efek dari obat tersebut juga sangat menyengsarakanku.
Aku berharap mimpi buruk ini segera berakhir. Mungkin inilah penyesalan
terdalamku.
THE END


No comments: